Ada Kampung Arab di Puncak, Benarkah Biang Kawin Kontrak?

2616
Warung Kaleng, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor

Kampung Arab. Demikian julukan untuk Kampung Sampay atau Warung Kaleng di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Konon, warga setempat sendiri yang memberikan istilah itu. Sebutan tersebut belakangan sudah populer. Sebab, ragam khas budaya Timur Tengah, mulai dari makanan hingga nama toko pun menggunakan tulisan Timur Tengah.    

Warung Kaleng, merupakan sebagaian kawasan di Jalan Raya Puncak sepanjang lebih kurang 50 meter. Terdapat puluhan kedai, toko, penginapan, travel hingga tempat penukaran uang di sepanjang jalan tersebut. Yang membuat istimewa, di lokasi tersebut banyak ditemui warga bertampang Timur Tengah.

Memasuki Mei-Juni, Kampung Arab akan menjadi salah satu tempat tujuan primadona turis Timur Tengah. Saat itu juga, kawin kontrak marak.

“Ya, perilaku kawin kontrak marak dimulai pada bulan Mei. Turis Arab umumnya lebih suka mengkonsumsi sisha atau rokok khas Timur Tengah dengan makanan dan minuman khas Arab juga. Di restorannya pun menggunakan menu bahasa Arab, termasuk kasir juga orang Arab,” tutur Anwar (45), penjaja vila yang menyambi menjajakan jasa parkir kendaraan di Warung Kaleng, Jumat (20/12/2019).

Terpisah, warga yang bertempat tinggal dilingkungan Warung Kaleng, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor mengaku sudah gerah serta minta pemerintah daerah segera turun tangan menghentikan tradisi tahunan kawin kontrak di bulan Agustus ini.

“Warung Kaleng ini lebih dikenal sebagai Kampung Arab. Sebab, lebih banyak orang Timteng (Timur Tengah) yang datang ke kafe dan jarang orang pribumi. Sudah berulangkali lokasi ini  digerebek polisi. Selain soal prostitusi, hal menonjol lainnya adalah kawin kontrak,” kata Firdaus (40), warga Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Penuturannya, wisatawan asal Timteng yang menetap di lingkungan Warung Kaleng ini selain menikmati dinginnya udara puncak, juga kerap melakukan kawin kontrak. Dulu kawin kontrak dilaksanakan di sejumlah vila dan hotel. Namun, karena sering digerebek polisi, belakangan kawin kontrak pun dilakukan didalam kendaraan.

“Wisatawan Timur Tengah biasanya datang bergerombol yang ingin kawin kontrak. Lokasinya di Warung Keleng. Biaya kawin kontrak sekitar Rp10-15 juta. Separuh untuk mempelai wanita, sebagian sisanya dibagi untuk mediator, dua saksi dan penghulu yang asal comot. Wanitanya, bukan warga Puncak. Mereka yang saya tahu pendatang dari Cianjur, atau Sukabumi,” imbuhnya.

Dia mengaku malu wilayahnya berlabel buruk karena hadirnya turis asing di Warung Kaleng. Sejumlah kafe dilingkungan Warung Kaleng, disebutnya juga dikenali jadi tempat tongkrongan wanita asal Maroko, diantaranya juga ada wanita pendatang asal luar Bogor.

“Mereka banyak tinggal di Puncak menjalankan bisnis esek-esek sampai kawin kontrak. Hanya bedanya, soal urusan kawin kontrak, gadis Maroko maunya dibayar tunai. Sebab, kalau kawin kontrak mereka enggan mengurus administrasi,” pungkasnya. (wawan)

SHARE

KOMENTAR