Biong Tanah Masih Gentayangan Caplok Lahan, Kementrian ATR BPN Siap Seret ke Penjara

124
ilustrasi

JAKARTA - Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN) sudah memiliki bukti, bahkan mengidentifikasi maraknya mafia tanah atau kerap diistilahkan ‘biong tanah’ hingga kini masih melakukan kejahatan mencaplok lahan. Meski demikian, pemerintah terus berupaya menangani polemik sengketa dengan mafia tanah. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan aparat hukum, Komisi Yudisial, hingga Mahkamah Agung.       

"Sudah identifikasi bahwa kasus kejahatan pertanahan ini tidak bisa kita selesaikan secara sendiri," kata Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertahanan Nasional (BPN) Sofyan A. Djalil saat gelar jumpa pers virtual terkait Mafia Tanah, Senin (18/10/2021).

Dia berujar, konflik dengan mafia tanah merupakan permasalahan yang rumit, terutama jika kasus sudah masuk ke tingkat pengadilan.

"Mungkin yang jadi korban berpendapat, 'Kok tidak selesai', tapi sengketa dan konflik mafia tanah itu lebih rumit, terutama yang sudah masuk lewat pengadilan. Kalau kasusnya sudah bertahun-tahun dan dibuka, kami perangkan, itu tidak mudah," tukasnya.

Dia juga menyampaikan, akan terus melakukan monitoring dan berbagai upaya untuk memberantas mafia tanah di Indonesia.

"Saya juga ingin mengingatkan kepada para mafia tanah jangan coba-coba lagi. Kalau di masa lalu kalian bisa melakukan secara leluasa, sekarang tidak bisa lagi, kita akan monitor, kita akan melakukan berbagai upaya. Tidak boleh mafia menang, tidak boleh. Karena kalau mafia menang itu repot kita semua," lanjutnya.

Upaya pemberantasan mafia tanah belum bisa dilakukan hanya dengan menggandeng pihak kepolisian. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu BPN dan Kepolisian RI bekerja sama memerangi mafia tanah dengan membentuk Satgas Mafia Tanah.

"Tim ini sudah berhasil melaksanakan penindakan beberapa kasus yang terjadi. Namun kegiatan ini tidak bisa kita selesaikan hanya kerjasama antara kepolisian dan BPN saja," imbuh dia.

Soal kasus pertanahan di Indonesia, sebutnya, banyak yang berasal dari warisan masa lalu. Dan, mafia tanah sudah beraksi dalam kasus pertanahan itu sejak lama merampas tanah milik masyarakat.

"Banyak sekali kasus (pertanahan) ini adalah kasus yang sudah lama, legacy masa lalu yang baru sekarang kita buka dan kita perangi. Kasus pertanahan akan panjang proses penyelesaiannya jika sudah sampai ke tahap sengketa," tutupnya. (Wawan)

SHARE

KOMENTAR