Catatan Pak E : Jaga APBN dari Kebangkutan karena Beli Pertalite Pedagang Eceran Aja Kita Enjoy, Mas Bro

153

Jokowi memang bukan kita. Tapi, Jokowi adalah kita. Keyakinan itu, buat saya, tak berubah dimulai dari awal pemilu lalu. Jika hidup adalah pilihan, maka pemimpin republik ini, Jokowi, merupakan pilihan saya. Tentunya, juga banyak orang yang sudah memilihnya pada pemilu 2019 lalu.

Jokowi memang adalah pribadi Jokowi. Namun, bagi kita melihat latar belakang Jokowi, dia adalah bagian dari kita. Jokowi adalah harapan kita. Pemimpin rakyat, yang tahu derita rakyat.

Saat ini, Jokowi dihadapkan pada pilihan karena dampak dari konflik Rusia-Ukraina yang membuat harga minyak dunia terkerek naik hingga di atas US$ 100 per barel. PR besar didepan mata yang sulit dihindari yakni menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berlaku saat ini. Atau, menggunakan pilihan lain, menyelamatkan beban ekonomi rakyat dengan tak menaikan BBM. Sementara, diketahui APBN dalam kondisi kritis. Tertekan. Terancam bobol jika terus menerus melakukan subsidi BBM.  

Sederat fakta yang menjadi pilihan dilematis pemerintah. Data menerangkan, konsumsi BBM hingga Juli 2022 terkait Pertalite mencapai 16,8 juta kiloliter dari kuota 2022 sebesar 23 juta kiloliter. Kini, sisanya tinggal 6,2 juta kiloliter.

Sementara, hingga akhir 2022 mendatang, diprediksi dibutuhkan sebanyak kuota 28-29 juta kiloliter. Jika mengacu konsumsi rata-rata 2,4 juta kiloliter per bulan, Pertalite akan habis di akhir September atau Oktober.

Demikian juga solar. Konsumsi Solar subsidi mencapai 9,9 juta kiloliter dari kuota 2022 sebesar 14,91 juta, sehingga tersisa 5,1 juta kiloliter. Dibutuhkan kuota 16 juta KL hingga akhir 2022. Bila rata-rata konsumsi 1,5 juta kiloliter per bulan, maka Solar subsidi akan habis pada November.

Pertalite yang memiliki kuota 23 juta kiloliter hanya 3,9 juta kiloliter yang dinikmati 40% terbawah, sedangkan 15,8 juta kiloliter yang menikmati adalah masyarakat kelas atas. Sementara, Solar dari 15 juta kiloliter hanya kurang dari 1 juta kiloliter yang dinikmati kelompok miskin. Anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun 2022 membengkak dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun.

Sementara, terpisah, suara penolakan kenaikan BBM terkait harga Pertalite dan Solar pun makin marak disuarakan. Jika BBM naik disebut-sebut akan berdampak pada kenaikan angka inflasi yang kini sudah melebihi angka 4 persen, daya beli masyarakat tergerus, dan potensi garis kemiskinan meningkat.

Itu betul. Tapi, bagaimana jika APBN negara ini terus terbebani melakukan subsidi BBM? Tentu dampaknya negara bakal bangkrut. Mari, kembali kita analisa perbandingan harga BBM mulai dari Pertamina, Vivo, Shell hingga pedagag penjualan eceran yang tersebar di banyak tepi jalan sejumlah tempat.

SPBU Shell

Super Rp 17.300 per liter.

V-Power Rp 18.300 per liter.

V-Power Diesel Rp 19.280 per liter.

V-Power Nitro+ Rp 18.520 per liter.

SPBU Vivo Energy

Revvo 89 Rp 12.400 per liter.

Revvo 92 Rp 15.900 per liter

Revvo 95 Rp 17.900 per liter

SPBU Pertamina

Pertalite Rp 7.650 per liter.

Pertamax Rp 12.500 per liter.

Pertamax Turbo Rp 14.500 per liter.

Pertamina Dex Rp 13.700 per liter.

Pedagang Bensin Eceran Pinggir Jalan   

Pertamax Rp15.000 per liter

Pertalite Rp10.000 per liter

Fakta menerangkan, harga BBM di Pertamina masih jauh lebih murah. Bahkan, banyak pedagang eceran BBM tersebar di sejumlah tempat, ‘seolah lebih dulu’ menaikan harga bensin dengan penjualan eceran dengan mematok harga Petralite Rp10 ribu dan Pertamax Rp15 ribu. Apakah pengguna kendaraan mengeluh merugi? Tidak. Bahkan, tak sedikit pengguna kendaraan seperti motor atau angkot yang memilih membeli di pedagang bensin eceran di pinggir jalan dibanding pom bensin.

Lalu, kesimpulannya apa? Tentunya, pemerintah harus mengambil langkah yang tepat agar inflasi tidak melonjak lebih tinggi lagi dari sekarang. APBN negara selamat dari ancaman tekor dan daya beli masyarakat masih terjaga, setidaknya itu yang harus dijaga.

Andai pemerintah menaikan harga BBM demi menyelamatkan APBN dari kebangkrutan dengan menetapkan harga eceran misalnya, untuk Petralite Rp9000 per liter, tentunya masih terjangkau masyarakat. Kenapa? Sebab, harga bensin Pertalite Rp10 ribu per liter yang dijual pedagang eceran saja masih diminati pengendara bermotor, termasuk warga negara klas tiga.  

Dan, menimbang saat ini pertumbuhan ekonomi sedang dalam tren yang positif, dan secara signifikan pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi masyarakat, sehingga daya beli masyarakat harus tetap terjaga dengan baik. Jika kenaikan BBM menjadi pilihan akhir, dari sejumlah sumber, memprediksi inflasi terkerek kisaran 0,5%. Artinya, inflasi sampai di akhir tahun diperkirakan bisa berada di kisaran 4% hingga 4,6% secara tahunan.

Nah, begitu saja catatan saya. Sebagai penutup, saya ucapkan, mari nikmati pisang goreng dan seduhan kopi hangat untuk menguatkan semangat bersaudara sebagai satu anak bangsa. Yuk, sruput dulu…. Glek, maknyos…

(Penulis : Aktivis 98, Eko Octa)

SHARE

KOMENTAR