Grebeg Suro Ponorogo Seperti Apa?, Berikut Menurut Ki Kimung

211
Ki Kimung bersama para budayawan setempat

PONOROGO - Menyambut malam 1 Suro atau 1 Muharam, aktivis 98 Mulyadi atau yang akrab disapa Ki Kimung berkesempatan menyaksikan langsung perayaan Grebeg Suro di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (29/7/2022) petang. Pada kesempatan itu, hadir Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak dan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Festival nasional tersebut, baru kali ini bisa digelar setelah sebelumnya dua tahun absen karena merebaknya  pandemi Covid-19. Perayaan Grebeg Suro tahun ini di Ponorogo berlangsung meriah dan mendapat dukungan dukungan masyarakat setempat. .  

 “Sebelumnya, rangkaian acara digelar prosesi Bedol Pusoko di Ponorogo, Jawa Timur, pada Kamis (28/7/2022) malam. Prosesi ritual tahunan itu berlangsung khidmat di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Ponorogo,” kata Ki Kimung yang dikenali sebagai budayawan, sekaligus penggiat kebatinan yang kini tengah berada di Selorojo, Malang, bersama para petani apel, saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Sabtu (30/7/2022)  

Dia melanjutkan, Ritual Bedol Pusoko Ponorogo pada perhelatan tersebut ditandai dengan  pelepasan tiga pusaka, yakni Songsong Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cindhe Puspito. Prosesi diawali dengan pengalungan rangkaian bunga melati oleh juru kunci makam Batoro Katong kepada Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko

“Prosesi Bedol Pusoko tersebut dibawa ke kawasan kota lama (Pasar Pon) tempat pemerintahan Ponorogo pertama sejak didirikan pada tahun  1496 Masehi.Kisah berdirinya Ponorogo ditandai dengan kekalahan Ketut Suryo Alam atau Demang Kutu oleh salah satu putra Brawijaya yaitu Batoro Katong. Di tahun tersebut Batoro Katong diwisuda menjadi Adipati pertama Ponorogo dan tiga pusaka peninggalan Batoro Katong yang dikirab," jelasnya.

Penuturannya, acara kirab pusaka menyambut 1 Hijriah di Ponorogo, Jawa Timur berlangsung semarak. Ratusan warga yang sudah sejak pagi mengantri berdesakan berebut tumpeng porak di Paseban Alun-alun Ponorogo.

“Warga berupaya berebut air suci yang digunakan untuk memandikan tiga benda pusaka peninggalan Kerajaan Bantarangin Ponorogo. Serta, buah-buahan. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun setiap perayaan Tahun Baru Hijriyah,” tuturnya.

Malam 1 Suro

Ki Kimung meneruskan, soal mitos 1 Suro menjadi malam yang sakral untuk masyarakat Jawa.

“Malam tersebut merupakan momen pergantian tahun baru dalam kalender Jawa. Merujuk pada kalender Jawa, malam 1 suro 2022 bertepatan pada 29 Juli 2022 dimulai sore hari sesudah Magrib. Kalender Jawa dari berbagai sumber, disebutkan diterbitkan oleh Raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo yang mengacu penanggalan Hijriyah (Islam),” tukasnya.

Pria yang diketahui memiliki banyak koleksi keris ini menambahkan, Malam 1 Suro acap dimaknai sebagai malam yang sakral, mistis dan klenik.

“Masyarakat Jawa mempercayai bahwa ada beberapa pantangan dan mitos malam 1 Suro. Diantaranya, tidak keluar rumah, larangan menggelar pesta atau pernikahan, hingga larangan pindah rumah. Konon disebut-sebut akanmenemui kesialan. Tapi, yang namanya mitos, kebenarannya tak diketahui,” tuntas Kimung. (Nesto)

SHARE

KOMENTAR