Hadirkan Pembicara Diskusi dari BNPT, Badilklat PDIP Kota Bogor Kupas Masalah Radikalisme

466
Diskusi Badiklat PDIP Kota Bogor

BOGOR –Radikalisme dan terorisme berbeda. Tapi, masyarakat hingga saat ini kerap salah kaprah dalam memaknai dan mengartikan secara harfiah terkait radikalisme dan teroris. Tak jarang, karena tidak paham, masyarakat kemudian mengaitkan radikalisme dan aksi terorisme dengan salah satu aliran agama.

“Perbedaannya, kalau radikalisme adalah suatu ideologi, gagasan atau paham yang dimiliki individu/kelompok dengan cara ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara ekstrim, bahkan bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku,” ungkap Ridwan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang hadir dalam diskusi “Merawat NKRI Dengan Membangun Pemahaman Anti Radikalisme di Masyarakat” di DPC PDI Perjuangan Kota Bogor, Jalan Ahmad Yani II, No, Tanah Sareal, baru-baru ini.

Dalam diskusi yang dihadiri Dradjat Tjahjono Soedono, Eko Octa, Runi B Haryanti dan Julius Khang juga sebagai pembicara, Ridwan mengatakan, paham radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun. Salah satiunya, melakukan aksi teror kepada pihak yang tidak sepaham dengan mereka.

“Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran agama. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan (violence),” sambungnya.

Ia menyebut, ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal. Diantaranya, intoleran (tidak mau menghargai pendapat & keyakinan orang lain), fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), eksklusif dan revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

“Dan, mereka yang terpapar radikaslime dikelompokan ada beberapa golongan yakni ideolog, militan, dan simpatisan. Mereka yang tergolong ideolog, memiliki kemampuan mempengaruhi orang yang sudah berinteraksi. Sementara, militan, dilatarbelakangi keyakinan. Sedangkan, simpatisan adalah pendukung yang cenderung bergerak melalui medsos,” tuturnya.

Menyikapi kondisi ini, sambungnya, sangat penting merangkul seluruh tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam melawan penafsiran negatif atas doktrin agama yang disalahgunakan oleh kelompok teroris atau radikal.

“Oleh karena itu, saat ini merupakan perlu melakukan upaya penguatan masyarakat sipil dalam kontra radikalisme. Sehingga, bisa membuat bangsa ini tak terperosok pada konflik dan penyebaran paham radikalisme,” tuntasnya.

Sebagai informasi, diskusi tersebut digelar Badan Pendidikan Pelatihan (Badiklat) DPC PDI Perjuangan Kota Bogor yang diketuai TB Raflimukti dengan mematuhi protokol kesehatan, penggunaan masker serta jarak. Turut hadir saat itu, Michael Djarot,  Zuhrotusadiah, Juli dari Satgas Cakrabuana, Bambang Setiadjati dan Rahmat Heryana dari PAC Bogor Selatan dan Bogor Timur, Sri dan Astrid pengurus Ranting Sempur, Rudi Girsang, Bayu Somadikarya, hingga Didik Kurniawan, pengurus Badiklat. (Nesto) 

SHARE

KOMENTAR