Jugun Ianfu, Sejarah Getir Penjajahan Jepang

1561
ilustrasi

Era pendudukan kolonialisme Jepang di Indonesia terbilang tak terlalu lama, hanya 3,5 tahun. Namun, di masa penajajahan Jepang, tersisa banyak cerita getir yang dialami wanita Indonesia menjadi budak seks. Jugun ianfu, demikian sebutan wanita-wanita penghibur yang diperuntukan bagi para tentara Jepang.

Dikutip dari sejumlah sumber, semula perempuan yang sukarela menjadi jugun ianfu biasanya berasal dari Jepang sendiri. Boleh dibilang, mereka yang ingin mengabdi pada negaranya sendiri. Namun, ada juga perempuan yang diiming-imingi pekerjaan, biasanya mereka yang berasal dari Korea, China, dan Malaya. Akan tetapi untuk perekrutan secara paksa, perempuan-perempuan Indonesia turut menjadi korban.

Pemaksaan tersebut terjadi akibat para jugun ianfu yang pertama kali datang ke Indonesia tahun 1942, yang berasal dari Korea dan Tiongkok, jumlahnya sedikit. Satu sisi, permintaan tentara Jepang soal perempuan penghibur di Indonesia meningkat. Untuk menyiasati kekurangnnya stok jugun ianfu, militer Jepang menculik perempuan-perempuan pribumi dari rumahnya. Bahkan dikabarkan, ada perempuan yang sedang bertani di sawah, kemudian tak luput dari penculikan militer Jepang.

Rupanya korban Jugun Ianfu di Indonesia tak cuma yang berasal dari warga pribumi. Tapi ada juga wanita Belanda yang jadi korbannya. Sebuah sumber menyatakan bahwa pada bulan Februari 1944, ada sepuluh wanita Belanda yang diambil secara paksa dari kamp penjara yang ada di Jawa. Tentara Kekaisaran Jepang kemudian menjadikan para wanita Belanda tersebut sebagai budak seks.

Mereka mengalami kekerasan, tak hanya dipukuli tapi juga diperkosa siang dan malam. Jan Ruff-O’herne, salah satu korban memberikan kesaksian pada DPR AS tahun 1990. Saat itu, ia membeberkan tindakan kejam dan tak manusiawi yang dialami. Ada derita, kekerasan, kebrutalan, dan juga kelaparan yang terjadi saat itu. Mirisnya lagi, ia juga mengungkapkan adanya dokter yang juga ikut memperkosanya ketika yang seharusnya dokter itu lakukan adalah memeriksanya terkait penyakit kelamin.

Sudah menjadi rahasia umum di negeri kita, bahwa tentara Jepang memperlakukan para jugun ianfu secara tidak manusiawi. Menurut mereka yang pernah menjadi jugun ianfu, Tak ada satupun kenangan manis yang bisa mereka ingat di rumah bordil militer Jepang tersebut.

Dalam praktiknya, terdapat pengkategorian para jugun ianfu. Mereka dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Jugun ianfu yang baru masuk rumah bordil biasanya akan berada di kategori berkualitas, atau kasta tertinggi. Pasalnya, mereka masih sangat mungkin bersih dari penyakit kelamin.

Namun, seiring berjalannya waktu, perempuan tersebut akan diturunkan kelasnya karena sudah sering “dipakai” tentara Jepang, sehingga kemungkinan terkena penyakit kelaminnya jadi lebih tinggi. Bayangkan saja, minimal dalam sehari mereka harus melayani nafsu bejat para tentara Jepang sebanyak empat orang. Itu baru angka minimal.

Lalu, saat jugun ianfu dianggap sudah berbahaya karena penyakitnya, mereka diabaikan militer Jepang. Satu hal ini mungkin akan mengganggu kamu, tapi perlu disampaikan. Banyak jugun ianfu mengungkapkan bagian uterus mereka membusuk, akibat dari penyakit yang diperoleh setelah melayani ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun. Tuhan memberkati kita yang hidup di zaman ini.

Periode takluknya Jepang pada masa Perang Dunia II, dan mundurnya Jepang dari Indonesia, jadi sedikit angin segar bagi para jugun ianfu. Selepas Jepang mengakui kekalahannya pada dunia, perlahan kekuatan Jepang pun menurun. Tanpa terkecuali di wilayah-wilayah yang jadi tempat koloninya. Momen tersebut tak cuma jadi angin segar bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia, tapi juga para jugun ianfu. Setidaknya mereka telah lepas dari jeratan perbudakan seks militer Jepang.

Mengetahui fakta-fakta soal Jugun Ianfu ini tak dimaksudkan untuk membuka luka dan menanamkan kebencian lagi. Hanya sebagai pengetahuan akan sejarah kelam yang pernah terjadi di masa lalu. (Dikutip dari sejumlah sumber/nesto)

SHARE

KOMENTAR