Kiprah Para Pejuang Tionghoa dalam Kemerdekaan RI

2403
ilustrasi

WNI keturunan atau Tionghoa yang bertempat tinggal di Indonesia sudah membuktikan heroismenya ikut memiliki andil besar dalam kemerdekaan RI. Bahkan, sebelum Indonesia merdeka, sudah dimulai peradaban di Nusantara yang memiliki hubungan yang panjang dengan bangsa Tiongkok.

Tonggak awal munculnya nasionalisme Tionghoa adalah dengan didirikannya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) atau perkumpulan Tionghoa di Jakarta oleh orang-orang Tionghoa berpendidikan Barat. Dikutip dari Tionghoa.info, kelompok ini menginginkan masyarakat Tionghoa yang sudah hidup turun-temurun di Hindia Belanda agar mengenal kebudayaan leluhurnya sendiri, sehingga mereka bisa bersatu sebagai satu kelompok masyarakat yang dihormati oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kegiatan utama THHK yang utama adalah membangun dan membina sekolah-sekolah berbahasa Mandarin, yang berlandaskan pada ajaran Konghucu. Berdirinya sekolah-sekolah Tiong Hoa Hwee Koan ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa di Batavia terhadap pemerintah Belanda, yang tidak pernah memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka.

Di Indonesia, Tiong Hoa Kwee Koan menjadi perintis dan penyebar penggunaan istilah ‘Tionghoa‘ yang mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa, lewat sekolah-sekolah yang didirikannya sekitar tahun 1900-an. Pada tahun 1920-an, ada kesepakatan antara pers Melayu dan pers Melayu – Tionghoa untuk saling mendukung dan menghormati perbedaan antaretnis, dengan menulis kata ‘Indonesia’ untuk menggantikan kata ‘Inlander’, dan ‘Tionghoa’ untuk menggantikan kata ‘Cina’ dalam setiap terbitan halaman korannya masing-masing.

Sejarawan Asvi Warman Adam juga mengakui peran etnis Tionghoa dalam pergerakan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Menurut Asvi, nasionalisme yang tertanam di kalangan Tionghoa membuat keberpihakan pada pejuang kemerdekaan sangat tinggi.

Berikut para pahlawan WNI keturunan Tionghoa yang berjasa mengharumkan bangsa ini :

1. Liem Koen Hian

Liem Koen Hian adalah salah satu anggota dari Badan penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang mana sering kali mengemukakan pendapatnya dengan mengedepankan unsur nasionalis. Dia secara total sangat mendukung kemerdekaan Indonesia dan menekankan bahwa untuk mengusung wacana kemerdekaan agar semua pihak tidak mencampuradukkan sisi rasial.

Dalam pandangannya, semua masyarakat dan Pemerintah Indonesia haruslah mengakui orang-orang Tionghoa yang ada dan tinggal di Tanah Air karena mereka merupakan warga negara Indonesia yang sah.

2. John Lie

Tokoh satu ini mungkin sudah banyak diketahui orang, terutama di Angkatan Laut. Mayor (AL) John Lie (Lie Tjeng Tjoan) adalah seorang nahkoda yang dipercaya Pemerintah Indonesia untuk menjual komoditas negeri dan ditukarkan dengan persenjataan yang sangat dibutuhkan oleh para pejuang dalam melawan Belanda.

Pensiun dengan jabatan Laksamana dan berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma, baru tahun 2009 silam oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, John Lie mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Indonesia serta dimasukkan dalam daftar pahlawan nasional karena jasanya terhadap negeri ini memang luar biasa.

3. Wan Moy

Wan Moy adalah pejuang pribumi keturunan Tionghoa yang asli dan lahir di Jawa Tengah. Dia mulai aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sejak berumur 13 tahun. Di usianya yang sangat muda, Wan Moy ditugaskan untuk menjadi mata-mata tentara Siliwangi untuk mencari segala informasi yang dimiliki Belanda.

Selain menjadi mata-mata Wan Moy juga aktif dalam Palang Merah Indonesia. Tidak pernah dia membeda-bedakan pribumi atau keturunan ketika merawat semua prajurit Indonesia yang terluka.

4. Joe Hin Tjio

Nama Joe Hin Tjio mungkin masih asing di telinga masyarakat Tanah Air, padahal dari tangannya ini, nama Indonesia akhirnya banyak dikenal di dunia internasional. Di era penjajahan Jepang, dia pernah ditahan karena dianggap memberontak, namun akhirnya Joe berhasil melarikan diri ke Eropa.

Di Eropa, Joe mendalami ilmu sains dan akhirnya namanya menjadi terkenal karena berhasil menetapkan jumlah koromosom manusia secara pasti dan sekaligus mematahkan teori painter. Oleh karenanya, dia sebagai orang Indonesia dianggap berjasa bagi dunia medis dan sains.

5. Siauw Giok Tjhan

Siauw Giok Tjhan adalah pria yang lahir di Kapasan, Surabaya pada tanggal 23 Maret 1914. Walaupun lahir dari keluarga Tionghoa, namun kecintaannya terhadap Tanah Air tidak dapat disangsikan. Bahkan, dia lebih suka diakui sebagai orang  Indonesia daripada orang Tionghoa. Atas jasanya, dia dianggap sebagai guru bangsa ini.

Di era Presiden Soekarno, dia pernah menjabat di posisi strategis, seperti Ketua Baperki, Menteri Negara, anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), anggota Parlemen Republik Indonesia Sementara, anggota Parlemen RIS, anggota Majelis Konstituante pemilu 1955, dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung. Bahkan dia juga menjadi salah satu pendiri cikal bakal Universitas Trisakti, Jakarta.

6. Tony Wen

Tony Wen atau Boen Kim To adalah salah satu sosok yang juga berjasa bagi negeri ini karena pada saat penjajahan Belanda dan Indonesia, keuangan dan kas  negara justru sangat minim. Hal itu disebabkan blokade Belanda dan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Oleh karenanya, Tony Wen bergerak cepat dengan menyuplai logistik, senjata dan memperjualbelikan beberapa barang dari dalam negeri sesuai dengan saran dari Menteri Keuangan saat itu, A.A Maramis, maka dia berhasil membantu untuk mengisi keuangan negara yang sangat tipis itu.

7. Yap Thiam Hien

Jika sekarang ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa tahun silam, ada seorang keturunan Tionghoa yang sangat antikorupsi dan gigih menentang praktik tersebut di sejumlah lembaga pemerintah. Dikarenakan aksinya itu dapat membuat banyak pihak yang merugi, maka dia sempat ditahan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1968 dan kembali dimasukkan sel pada tahun 1974 karena membela aktivitas mahasiswa dalam peristiwa Malari.

Dalam pemikirannya, semua warga negara memiliki hak setara di mata hukum. Oleh karenanya, dia sangat menentang segala praktik pelanggaran HAM, korupsi dan rasisme. Yap juga menjadi salah satu pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Mereka, beberapa diantara sekian banyak tokoh-tokoh Tionghoa yang berjasa besar bagi Indonesia. Jadi, kalau masih ada yang masih sering mempermasalahkan SARA, maka sepertinya harus membuka lagi buku sejarah dan membaca kisah tokoh-tokoh di atas. Dan, perlu diingatkan begitu besar cinta WNI keturunan Tionghoa dengan Indonesia sampai rela berkorban. (Dikutip dari sejumlah sumber/ nesto)

SHARE

KOMENTAR