Legenda Sejarah KKO Letjen Hartono, Loyalis Bung Karno yang Berani Lawan Soeharto

41
Letend Hartono

Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Demikian ungkapan popular. Tak beda dengan Letjen Hartono. Namanya, nyaris tak dikenal dan tak tercatat di sejarah. Padahal, perwira dari satuan KKO TNI-AL (sekarang Marinir) ini, merupakan loyalis Soekano dan secara terang-terangan menyatakan anti Soeharto saat itu. Perjalanan waktu, akhirnya membuat Hartono meninggal secara misterius.

Kabar beredar, disebut-sebut kematian Letjen Hartono berakhir tragis di tangan kekuasaan Orde Baru. Gejolak politik yang ada pada saat itu, menjadi babak awal dan akhir bagi perjalanan cerita sang Jenderal.

“Pejah gesang melu (hidup mati ikut) Bung Karno. Putih kata Bung Karno, Putih kata KKO. Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO“. Demikian kata Hartono. Kata-kata ini populer di kalangan anak buahnya.        

Dikutip dari buku 'Nasib Para Soekarnois: Kisah Penculikan Gubernur Bali Sutedja 1966 karya Aju yang diterbitkan Yayasan Penghayat Keadilan, yang dicetak September 2015. Praktik pembersihan terhadap loyalis Soekarno atau disebut Soekarnois dianggap dilakukan secara berlebihan.

Seoharto yang saat itu tengah berkuasa, tak segan melakukan politik kepada lawannya dengan menangkap, memenjarakan bahkan menghukum mati mereka tanpa melalui proses peradilan. Bahkan Gubernur Bali anak Agung Bagus Suteja diculik dan tak pernah diketahui rimbanya. Tudingan yang diobral untuk memojokan lawan politiknya, termasuk loyalis Soekarno yakni dengan tuduhan PKI.  

Komandan Korps Komando Operasi TNI AL (kini Marinir) Mayor Jenderal Hartono termasuk loyalis Soekarno. Hartono berkali-kali meminta restu kepada Presiden Soekarno untuk melawan Soeharto. Dia berencana menggerakkan seluruh anak buahnya, sebab Soeharto telah bertindak di luar batas. Namun, permintaan itu ditolak. Karena, Bung Karno menolak terjadi pertumpahan darah atau perang saudara.

Tahun 1968, Soeharto ditunjuk menjadi presiden menggantikan Soekarno. Soeharto tahu Hartono bakal menjadi rintangan berat jika terus didiamkan. Dia menugaskannya untuk menjadi Duta Besar RI di Korea Utara. Rupanya, cara ini dilakukan untuk menggerogoti kekuatan Hartono terhadap KKO.

Selang beberapa tahun berikutnya, dia diminta pulang ke Indonesia untuk diperiksa. Bahkan, rencana untuk kembali bertugas ke Korea Utara digagalkan dengan alasan penyelidikan belum selesai. Kondisi ini membuatnya resah, dia sadar hidupnya tak akan lama lagi.

Pemulangan dirinya berkaitan dengan pertemuan para duta besar Indonesia se-Asia Pasifik di Tokyo. Namun sayang, ajal keburu menutup umur Hartono. Ia ditemukan kaku tak bernyawa dengan bekas tembakan di kepala. Di samping jasadnya, ditemukan pula pistol berjenis Makarov dengan berperedam suara.

Versi pemerintahan Orba,Hartono tewas bunuh diri. Hal tersebut bahkan disangsikan kebenarannya oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Letjen KKO (Purn) Ali Sadikin dan mantan Wakasal Laksamana Madya Rachmat Sumengkar.

“Saya temukan Hartono terduduk di kursi dengan darah membasahi bagian belakang kepala. Di sampingnya kaca jendela pecah berantakan kena tembakan…”demikian pengakuan Nyonya Prawirosoetarto seperti ditulis Julius Pour dalam G30S, Fakta atau Rekayasa.   

Kematiannya penuh misteri, bahkan mantan Gubernur DKI Jakarta Letjen KKO (Purn) Ali Sadikin dan mantan Wakasal Laksamana Madya Rachmat Sumengkar menyangsikan keterangan itu. Sebab, data yang ditemukan di rumah Hartono berbeda dengan hasil investigasi resmi yang dikeluarkan RSPAD.

(Dari berbagai sumber/ Nesto)

SHARE

KOMENTAR