Letjen (KKO) Hartono Tewas Dibunuh Antek Soeharto?

41

Sejarah tak boleh melupakan Letnan Jenderal Hartono. Ia legenda Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL, kini bersebutan Korps Marinir). Ucapannya yang termashyur adalah “Merah kata Bung Karno, merah kata KKO!  Putih kata Bung Karno, putih kata KKO!”. Kalimat itu keluar dari mulutnya di hadapan barisan yang sangat menghormatinya serta di pelbagai kesempatan di saat Presiden Soekarno ditekan hebat oleh kubu yang sedang menggulingkannya.

Lahir di Solo, Hartono menjalani pendidikan pelayaran di era pendudukan Jepang. Saat Indonesia merdeka, ia dan beberapa temannya mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut di Tegal, yang kemudian berganti nama menjadi Corps Mariniers.

Berani dan tangguh, lelaki berbadan gempal yang kemudian menikah dengan Grace Barbara Walandaow ini berkarir cemerlang. Di usia 34 tahun, pada 8 November 1961 ia dijadikan Soekarno Panglima KKO. Lantas, pada 27 November 1966 ia menjadi Menteri/Deputi Panglima AL merangkap Panglima KKO. 

Perwira yang di tahun 1964 tugas belajar 10 bulan di Uni Soviet ini anak kesayangan Bung Karno. Di sisi lain ayah 4 putri ini pun Soekarnois sejati. Kualitas hubungan mereka benar-benar diuji di bulan-bulan maha genting pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965. Saat proklamator itu disudutkan betul oleh kubu Letnan Jenderal Soeharto, sahabat Ali Sadikin itu pun pasang badan dan KKO setia di belakangnya. Ucapan sang panglima, “Pecah Gesang Melu Bung Karno” [Hidup Mati ikut Bung Karno] menjadi prinsip korpsnya.

Untuk mengimbangi mobilisasi massa yang dilakukan kekuatan yang belakangan hari menamakan diri ‘Orde Baru’, KKO pamer ketangguhan di Surabaya pas di hari ulang tahun Soekarno yang ke-65 (6 Juni 1966). Dengan kekuatan penuh serta menurunkan tank dan senjata berat lainnya mereka berpawai keliling kota pahlawan. Gaya mereka di jalanan sungguh provokatif. Yel-yel “Hidup Bung Karno…Hidup Bung Karno” mereka serukan terutama saat melintas di depan markas lawan.

Tatkala dirinya sudah kian terjepit, info intelijen sampai ke telinga Bung Karno bahwa RPKAD (kini: Kopassus) akan menyerbu Istana. Arsitek itu pun bertanya ke Hartono apakah ia sanggup menghadapi RPKAD. “Sanggup!” ucapnya. Ia juga menyatakan sanggup melindungi idolanya tersebut

Letjen Hartono pernah meminta izin Bung Karno untuk menggempur kekuatan yang sedang menggerogoti sang penggali Pancasila.  Sebagai catatan, selain AL, AU yang memiliki Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) dan Polri yang mempunyai Brigade Mobil (Brimob), umumnya masih setia di belakang Soekarno di masa itu.

Tapi, kala itu, Bung Karno ternyata melarang Hartono mengerahkan kekuatan bersenjata. Alasan dia? Nanti akan terjadi perang saudara. Sekali terjadi, perang saudara pasti akan berketerusan seperti di Amerika Latin. Akibatnya rakyatlah yang akan menderita.

Tanpa perlawanan yang berarti, kubu Panglima Kostrad Soeharto akhirnya mudah saja melakukan apa pun. Bung Karno mereka gulingkan dan jadikan tahanan rumah. Letjen Soeharto berkuasa secara resmi mulai 12 Maret 1967 atau setahun setelah Supersemar keluar. Tapi pembersihan terhadap orang-orang Soekarno sudah menjadi prioritasnya sebaik ia secara ‘de facto’ menjadi orang nomor satu di Indonesia.  Hartono masuk di daftar teratas orang yang harus disingkirkan.

Tewas Misterius

Pada 8 November 1968 Letjen Hartono mendapat perintah untuk menjadi duta besar di Pyongyang, Korea Utara. Pembuangan ini tak ia perkarakan. Rupanya selepas kepergiannya KKO mengalami pengerdilan. Yang satu ini sulit ia terima. Induk KKO, TNI AL, pun bernasib serupa. Marjinalisasi ini bisa dikatakan berlangsung sepanjang era Orde Baru.

Di penghujung 1970 Hartono muncul di Jakarta setelah menghadiri pertemuan para duta besar Indonesia se-Asia Pasifik, di Tokyo. Istri dan keempat anaknya ia tinggalkan di Pyongyang. Ternyata di ibukota RI ia harus menjalani pemeriksaan terkait peristiwa G30S.

“Kami berdua sempat bertemu waktu itu. Keadaannya baik-baik saja dan ia tetap bersemangat. Ia memang bilang dirinya dipanggil tim pemeriksa beberapa kali,” ungkap Bang Ali ke kami.

Selasa 5 Januari 1971 malam Letjen Hartono menerima dua tamu di rumah ibunya, di Jl. Prof. Soepomo, Jakarta [di kitaran Balai Sudirman sekarang]. Mereka bercakap sampai subuh. Saat hendak menyiapkan sarapan, subuh itu sang ibu, Nyonya Prawirosoetarto, mendengar suara kaca pecah. Ia bergegas ke sumber bunyi. Ternyata di ruang kerja yang terbuka itu ia lihat putranya sudah terkulai tak bernyawa. Belakang kepalanya bersimbah darah. Sepucuk pistol yang bukan miliknya tergeletak di sebelahnya. Kedua tamu itu raib sudah.

Otoritas negara muncul di TKP. Mereka lantas membawa jenazah tokoh KKO itu ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), bukan ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) atau ke RSCM yang sebenarnya lebih dekat ke Jl. Prof. Soepomo. Di sana jenderal itu langsung dimasukkan ke peti kayu yang segera dipaku sehingga tak bisa lagi dilihat oleh siapa pun termasuk keluarga.

Menteri Luar Negeri Adam Malik mengatakan kepada para wartawan bahwa Letjen Hartono meninggalkan akibat pendarahan otak. Adalah Laksamana Soedomo yang kemudian mengumumkan ke pers bahwa duta besar itu meninggal karena bunuh diri. Sebabnya, kata sang Laksamana, almarhum merasa gagal menjalankan tugasnya sebagai dubes.

“Tak mungkin ia bunuh diri! Ia orang yang sangat berkepribadian, tidak mudah putus asa, dan berani. Tidak ada takutnya. Ia dibunuh,” kata Bang Ali ke kami.

Ia lantas berbicara panjang soal dosa-dosa rezim Orde Baru, termasuk ke KKO. “Harto harus diadili. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bukan hanya yang ke Pak Hartono dan korps kami, Marinir, tapi juga ke korban-korban yang lain termasuk sipil.”

Pengabadian

Tak terasa sudah sejam lebih kami bercakap. Tetamunya pastilah sudah capek menunggu giliran. Kami pun minta diri.

“Eh…sudah dikasih minum belum? Belum ya…?” ucapnya.

Ia pun memanggil Mbak Mia dengan suara keras.

“Kok mereka nggak dikasih minum….gimana sih…”

“Nggak usah, lain kali saja, Mbak. Kami nggak haus. Lagi pula kami harus cepat pergi. Biasa: deadline…,” ucap Rin menurunkan tempo.

Kami pun bersalaman dengan tuan rumah, dan tentu saja, dengan Mbak Mia juga.

Kupikir urusannya sudah beres. Rupanya Bang Ali ikut sampai ke halaman mengantar kami. Sembari memegangi punggung kananku ia menapak beriringan. Ke aku ia masih saja curhat soal Jenderal Soeharto dan Orde Baru-nya.

Kami berempat berjalan kaki dari Jl. Borobudur 2 sampai ke Megaria. Di sana, di warung ayam bakar yang di terletak di belakang, kami mengisi perut yang sudah keroncongan. Sambil bersantap kami masih membahas soal Bang Ali.

“Dia ternyata lembut ya,” kata Arnaud Dubus.

“Sepertinya dia berkepribadian ganda. Habis mengamuk dengan memukul-mukul meja, dia berubah menjadi sentimentil. Ke kita dia manis sedangkan ke tamu yang sebelumnya galak,” Ivan Cohen menimpali.

Aku merasa perlu menjelaskan mengapa letnan jenderal KKO itu berperilaku demikian hari itu. Ke kedua kawan yang masih awam soal politik Indonesia itu kuterangkan sambil mengerat ayam panggang atau timun iris, apa saja yang telah dilakukan rezim Orde Baru kepada mereka yang danggapnya musuh politik. Hartono dan KKO-nya serta Bang Ali dengan Petisi 50 yang dipimpinnya termasuk yang menjadi korban kekejaman penguasa yang ditopang kaum teknokrat tersebut. 

Kedua kawan buleku itu barulah mafhum mengapa Bang Ali barusan sangat sewot dan sengit. “O, begitu ya….,” itu kalimat yang diucapkan Arnaud. Jawabku? “Ya memang begitu!”

Kejadian yang kukisahkan ini berseting Mei 1998. Sudah lama silam, bukan? Betul. Bang Ali sendiri telah tiada; ia berpulang di Singapura pada 20 Mei 2008. Begitu lama pun waktu lampau, kasus tewasnya Letjen Hartono masih saja gelap. Untung saja masih ada berita baiknya. Korps Marinir tetap menghormati dan mengingat dia. Buktinya, misalnya, pada 8 Februari 2008 mereka telah mengganti nama Kesatriaan Marinir Cilandak menjadi Kesatriaan Marinir Hartono. Sungguh pengabadian yang tepat. (Sumber : Law-justice.co)  

SHARE

KOMENTAR