Politik Tagar Masih Jadi Tren

1257

Politik tagar, hingga saat ini masih relevan. Terkini, seperti maraknya penggunaan tagar #ErickOut oleh segelintir penggiat medsos. Tagar, dipopulerkan pertama kali di Amerika Serikat pada 2009 dan sampai saat ini, masih digunakan. Sebut saja diantaranya saat Pemilu 2019 lalu, publik pernah dihebohkan oleh tagar-tagar semacam #2019GantiPresiden, #Jokowi2Periode sampai #UninstallBukalapak. Meski menuai pro kontra, perkembangan politik tagar di Indonesia lebih menarik dengan melakukan interpretasi terhadap makna-makna yang terkandung dibalik simbol #.

Di era dunia maya yang banyak diminati saat ini, memenangkan opini di medsos tampaknya telah jadi urusan serius. Inilah kenyataan yang harus kita hadapi: prestasi diukur dari seberapa banyak sebuah statemen disukai (like) dan disebarluaskan (share). Tanda pagar atau hashtag telah menjadi mantra yang menggetarkan: makin luas sebuah pesan disebarkan, makin ia dipersepsikan sebagai kebenaran.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), simbol # merujuk pada kata ‘tagar’ -singkatan dari ‘tanda pagar’ yang didefinisikan sebagai petanda topik bahasan dalam status media jejaring sosial. Masih dalam KBBI, kata ‘tagar’ – bukan ‘tanda pagar’ dan yang tidak menggunakan simbol # punya definisi lain, yaitu guruh atau guntur. Walaupun definisi kata ‘tagar’ pertama dan kedua berbeda, bahkan terkesan tidak nyambung.

Akan tetapi dengan melihat praktik politik tagar di dunia maya selama ini, keduanya punya hubungan dengan penjelasan filosofis sendiri. Bahwa dibalik suatu tagar yang menjadi trending topic, terdapat kecenderungan pengguna tagar yang emosional, responsif dan reaksioner terhadap tagar tersebut. Ibarat ketika hujan, tidak ada guruh yang mendahului kilat.

Founder Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi dalam risetnya melihat penggalangan opini pernah dibangun mahasiswa melalui media sosial, hasilnya lumayan rapih dan berhasil mendapatkan simpati pengguna internet.

"Gerakan #GejayanMemanggil adalah contoh mobilisasi offline dan online. Gerakan ini tidak akan ramai jika hanya online saja. Hanya mainan buzzer di medsos dan GiveAway. Memang bisa membangun opini, namun impact kalah kuat kalau tidak ada aksi offline. #GejayanMemanggil memanggil sudah disiapkan dulu kajiannya secara offline. Setelah tagar muncul secara online, diikuti dengan aksi di berbagai kota, secara offline. Aksi organik, tidak bisa dipalsukan. Yang dipalsukan biasanya ketahuan, hanya sesaat dan oleh massa bayaran," sebut Ismail melalui akun Facebook-nya menganalisa aksi #GejayanMemanggil yang dianggap sebagai "Pembuka" dari gerakan #ReformasiDikorupsi.

#GejayanMemanggil terinspirasi dengan gerakan serupa di Yogyakarta 21 tahun lalu dimana mahasiswa bergerak ingin menggulingkan rezim Soeharto. Demonstrasi #GejayanMemanggil ini dilandasi oleh penilaian politik Indonesia saat ini sedang dikuasai oleh kelas borjuis yang oligarkis.

Ismail juga mengungkapkan fakta Generasi Z/K-Poppers ternyata turut bersuara lantang bersama Mahasiswa, aktivis, dan oposisi atas perkembangan bangsa.

"Dari semua tagar itu, volume percakapan tagar yang mengkritik jauh lebih besar dari tagar dukungan. #ReformasiDikorupsi paling tinggi, diikuti #TurunkanJokowi dan #DiperkosaNegara. Tagar dukungan yg paling ramai adalah #SayaBersamaJokowi. Lainnya volume sangat kecil,"ulasnya.

Peta Social Network Analysis (SNA) dari semua tagar memperlihatkan bagaimana user Twitter berkelompok berdasarkan isu yang diangkat. Ada 4 cluster: Pro Rezim dan Give Away, GenZ/K-Poppers, Aktivis, dan Oposisi. Semua tagar yang mendukung berada di klaster Pro pemerintah. Sementara yang mengkritik membentuk 3 klaster. (Dari berbagai sumber/nesto)

SHARE

KOMENTAR