Resolusi Jihad dan Peran Ulama serta Santri Pertahankan Kemerdekaan

74
Ilustrasi (Foto : NU Online)

Setiap tahunnya, pada 22 Oktober seluruh santri di Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri. Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, saat itu penjajah tidak tinggal diam. Inggris bergandengan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali datang untuk menguasai Indonesia yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.

Mengetahui hal itu, Umat Islam pun bereaksi. Pendiri Nahdhatul Ulama KH. Hasyim As’ari bersama para kyai dan santri perwakilan NU di seluruh Jawa dan Madura menyerukan jihad melawan penjajah. Deklarasi itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945. Belakangan deklarasi itu populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad.

Seruan Resolusi Jihad NU tahun 22 Oktober 1945 dijadikan acuan dalam memperingati HSN tiap tahunnya. Dalam sejarah, teks Resolusi Jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama (Dulu Nahdlatoel Oelama-red) ini kemudian menjadi alat bagi para santri di seluruh negeri untuk angkat senjata, ikut serta berjihad dalam memertahankan Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus oleh Soekarno-Hatta.

Pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945 yang dipimpin oleh Bung Tomo juga merupakan buah dari Resolusi Jihad ini. Dikutip dari situs resmi NU, Teks ini dikeluarkan oleh oleh Nahdlatul Ulama pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya di Rapat Besar yang dihadiri konsul-konsul (semacam cabang) NU se-Jawa dan Madura.

Teks Resolusi Jihad yang dibacakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan memiliki pengaruh yang besar dalam upaya memertahankan bangsa. Teks ini juga dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945, ejaannya mengikuti ejaan asli (untuk gambar, lihat di atas). 

Berikut teks lengkap Resolusi Jihad 22 Oktober 2021, acuan Sejarah Hari Santri.

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.

Mendengar :

Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang :

a. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.

b. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.

Mengingat:

Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.

Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.

Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.

Memoetoeskan :

Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Soerabaja, 22 Oktober 1945

NAHDLATOEL OELAMA

Demikianlah teks lengkap Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 yang dijadikan acuan bagi pemerintah dalam mengenang usaha para santri mengabdi dan memertahankan kemerdekaan NKRI.

(Sumber : Kompas.TV/ Nesto)   

SHARE

KOMENTAR