Selamat Ultah ke-75 Ibu Mega, Berikut Perjalanan Karir Ketum DPP PDI Perjuangan

193
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri

Hari ini, Minggu (23/1/2022), tepat 75 tahun usia Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Hadirnya Megawati Soekarnoputri di panggung politik, kembali membangkitkan spirit perjuangan sang ayah, Soekarno. Perjalanan politiknya tak mudah, sarat dengan lika liku rintangan,  hingga ia terpilih sebagai Presiden RI dan hingga kini memimpin partai berelektabilitas tertinggi, PDI Perjuangan.   

Melalui Megawati pula, sejumlah kader-kader handal kini menjabat bupati, walikota, gubernur, bahkan hingga presiden. Terakhir, ia memang berhasil mengantarkan kadernya Joko Widodo untuk menjadi presiden. Joko Wiodo-Jusuf Kalla yang diusung oleh PDIP berhasil menduduki sebagai Presiden dan wakil Presiden periode 2014-2019. Dan, kembali berlanjut mengantarkan Jokowi yang berpasangan dengan KH Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, periode 2019-2024.   

Semua itu dilakukan dengan perjuangan, kerja keras, dan gotong royong yang selalu diingatkan oleh Megawati kepada kadernya. Megawati sudah memegang nilai-nilai tersebut dari ajaran ayahnya. Dialah anak ideologis yang mengikuti penuh jejak sang ayah, Bung Karno.

Bergabungnya Megawati di PDI mendongkrak popularitas partai berlambang banteng itu. Melejitnya suara PDI pada pemilu 1987 dan 1992, kala itu membuat cemas penguasa Orde Baru. Begitu pula Ketua Umum PDI Soerjadi yang ketokohannya tersaingi oleh Megawati waktu itu.

Rekayasa dan konflik internal pun diciptakan di tubuh PDI. Kongres PDI di Medan pada Juli 1993 untuk mengukuhkan Soerjadi kembali sebagai ketua umum menemui jalan buntu. Kongres Luar Biasa pun digelar di Surabaya pada Desember 1993.

Tak sesuai dengan harapan pemerintah untuk memenangkan tokoh yang bisa dikendalikan, Megawati justru tampil sebagai pemenang dengan meraih dukungan dari 27 DPD untuk mengambil alih pimpinan PDI. Berdasarkan Kongres Surabaya 1993, Megawati adalah Ketua Umum PDI periode 1993-1998. Dikutip dari buku Megawati dalam Catatan Wartawan (2017), pascaterpilih sebagai ketua umum, Megawati berkeliling Indonesia untuk konsolidasi dan menemui rakyat.

Ketidaksukaan pemerintah Orde Baru akan popularitas Megawati justru membuat Megawati makin dicintai orang banyak. Ia adalah simbol perlawanan terhadap tekanan Orde Baru. Megawati sempat diusulkan sebagai calon presiden.

Megawati terus digoyang dan coba didongkel di tengah jalan. Pada 1996, lawan politik Megawati yang didukung pemerintah di dalam partai menggelar kongres Medan yang memilih Soerjadi sebagai ketua umum. Pascakongres PDI di Medan, pucuk pimpinan PDI terbelah dua. Ada PDI Soerjadi yang didukung pemerintah dan ada PDI Megawati yang didukung akar rumput.

PDI kubu Megawati menguasai Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta. Insiden berdarah pecah di sana saat massa dari kubu Soerjadi yang didukung pemerintah merebut paksa kantor. Lima orang dilaporkan tewas, sementara ratusan orang mengalami luka-luka. Tekanan terhadap Mega justru menguatkan dukungan rakyat terhadapnya. Pendukungnya di PDI bahkan pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membentuk "Mega-Bintang". Mega sendiri memilih golput saat Pemilu 1997.

Biografi Singkat

Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau akrab dipanggil Mega. Putri Bung Karno tersebut  lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947 dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Mega adalah anak kedua dari Presiden pertama Indonesia.

Pada umur 7 tahun, seperti anak-anak lain, Mega masuk sekolah dasar. Sekolah Dasar hingga SMA diselesaikan di Perguruan Cikini, Jakarta. Pada usia 18 tahun dia lulus SMA. Setelah lulus SMA, Mega kuliah di Fakultas Pertanian Unpad, Bandung. Di sini tidak bertahan lama, sekitar setahun antara tahun 1965-1967, karena situasi politik nasional saat itu sedang memanas.

Pada tahun 1967 adalah masa terakhir kepresiden bapaknya. Tiga tahun tidak aktif kuliah, bukan berarti dia berdiam diri. Dia tetap aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Setelah kondisi politik agak normal, Mega kembali masuk kuliah di Fakultas Psikologi UI, tapi tidak sampai tuntas. Pada tahun-tahun ini adalah tahun duka keluarga besar Soekarno. Pada tahun 1970, sang ayah, Bung Karno tutup usia saat Mega berusia 23 tahun.

Mega bisa dibilang sebagai titisan bapaknya. Menindak lanjuti perjuangan bapaknya, saat aktif di GMNI, dia terjun ke partai politik. Pada usia 39 tahun ia menjadi pengurus PDI Jakarta Pusat pada tahun 1986. Setahun kemudian, dia menjadi anggota DPR RI 1987-1992. (Dari berbagai sumber/ Eko Octa)

     

KELUARGA     

Suami           : Alm Taufik Kiemas

Anak             : M Rizki Pratama

                       M Pranada

                       Karina

                       Puan Maharani

 

PENDIDIKAN

SD Perguruan Cikini Jakarta (1954-1959)

SLTP Perguruan Cikini Jakarta (1960-1962)

SLTA Perguruan Cikini Jakarta (1963-1965)

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (1965-1967)

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta (1970-1972)

KARIER

Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia di Bandung, 1965

Pengurus DPC PDI Jakarta Pusat,

Anggota Fraksi PDI DPR-RI, 1987-1997

Ketua Umum PDI, 1993-1998

Ketua Umum PDI Perjuangan, hingga saat ini 

Wakil Presiden Republik Indonesia, 1999-2001

Presiden Republik Indonesia ke-5, 2001-2004

SHARE

KOMENTAR