Webinar PDIP, Ibu-ibu Indonesia Hebat Bicara Peradaban Indonesia

710

JAKARTA - PDI Perjuangan menggelar webinar dengan tema 'Perempuan Jalan Peradaban Indonesia'. Kegiatan yang digelar jelang perngatan Hari Ibu ini membahas peran perempuan di tengah pandemi Covid-19.

"Bagaimana perempuan hadir untuk mencukupi kebutuhan gizi bagi keluarganya. Di tengah Covid, peran ibu penting. Bung Karno menegaskan, kaum perempuan adalah yang mula-mula induknya kultur. Perempuan lah yang membangun kultur yang utama dan bukan laki-laki," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang membuka webinar tersebut, Senin (21/12/2020).

PDI Perjuangan disebutnya memberikan ruang yang besar bagi kaum perempuan sesuai visi Bung Karno dan pesan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri terhadap kepeloporan perempuan.

"Kami berharap pesan Ibu Megawati Soekarnoputri dapat kita jalankan. Persoalan emansipasi perempuan bagian dari emansipasi bangsa. Artinya, keterlibatan dan kesadaran diri dari kaum perempuan untuk bersama kaum laki-laki, untuk mewujudkan Indonesia Merdeka," tutur Hasto.

Sementara, Ketua DPP PDIP bidang politik dan keamanan, Puan Maharani, mengatakan, separuh dari rakyat Indonesia adalah perempuan. Hal itu berarti, energi bangsa Indonesia sebagiannya adalah kaum perempuan.

"Atau seperti Bung Karno sampaikan, perempuan adalah salah satu dari dua sayapnya seekor burung. maka jelas diperlukan perean aktif perempuan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Apalagi perempuan berperan besar di dalam keluarga sebagai titik awal pendidikan anak di rumah," ujar Puan.

Tutur Ketua DPR, yang paling utama, adalah menyadarkan bahwa menyertakan perempuan bukanlah pekerjaan afirmatif, namun merupakan kesadaran atas penghargaan harkat dan martabat manusia.

"Saya mengajak semua bahwa tahun 2021, sebagai tahun Indonesia menjawab semua tantangan, tahun pemulihan, tahun kebangkitan Indonesia dari pandemi covid-19," tegasnya.

Risma, saat menjadi pembicara menyampaikan, keberhasilannya memimpin Surabaya karena campur tangan peran perempuan dan laki-laki yang menjadi kader-kader. Dia memberi contoh, ada 27 ribu kader lingkungan yang bersama Pemkot Surabaya mengolah sampah menjadi kompos. Tak hanya itu, ia juga menceritakan 98 persen kader kesehatannya adalah perempuan.

"Kami juga mempunya kampung pendidikan. Jadi kampung pendidikan ini sebetulnya judulnya bidikan, kami memantau harus anak anak bisa sekolah. Awalnya begitu. Kemudian bergerak menjadi kampungne arek suroboyo. Jadi mereka mengatur jadwal menonton tv, itu diatur. Kemudian ada yang piket. Jadi ada yang main-main di jalan saat waktunya belajar. Itu yang piket mengingatkan tak boleh keluyuran saat jam belajar. Ada kreasi juga ada yang latihan menari beladiri  dan sebagainya. Jadi di kampung itu digerakkan setiap anak punya prestasi," tutupnya. (Nesto)

 

SHARE

KOMENTAR