Ajak Pilih Pemimpin Reformis, Aktivis 98 dan Relawan Ganjar ini Ingatkan Orba Gentayangan Ingin Bangkit Kembali

495
Sanda Aprili dan Diajeng Liva

Aartreya – Aktivis Front Pemuda Penegak Hak Rakyat (FPPHR), Sanda Aprili menyampaikan setuju dengan pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Relawan Ganjar-Mahfud di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat yang menyebut penguasa saat ini bertindak seperti zaman Orde Baru, pada Senin (27/11/2023).

“Fenomena ini terlihat dengan konstitusi yang diduga diotak-atik demi memuluskan jalannya anak presiden. Menyusul, adanya dugaan kelompok berseragam ikut memasang alat peraga kampanye parpol, dan konon juga capres. Bahkan, terbaru, panitia acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Desa 2023 diduga melakukan mobilisasi terhadap aparat desa untuk mendukung pasangan capres cawapres tertentu,” kata warga Mulyaharja, Kota Bogor, Sanda Aprili blak-blakan kepada media online ini.

Ia berujar, politik akal-akalan bak era orba semasa dipimpin Soeharto kini mulai terlihat terang benderang.

“Ketika dulu kita berdarah-darah, berkeringat, berjuang bersama tumbagkan orba dan tegakan reformasi. Tapi, kini, rezim penguasa saat ini, menunjukan powernya seolah republik ini miliknya dengan adanya dugaan melakukan upaya curang, dimulai dari hukum hingga tata kelola negara,”tukasnya.

“Saat reformasi lahir, dimana Prabowo? Apakah dia bersama para pejuang reformasi pada 1998? Tidak! Dia malah berada di posisi yang bersebrangan dengan para reformis. Dia adalah menantunya rezim orba saat itu, Soeharto. Lalu, Gibran dimana? Mungkin usianya masih bayi. Dan, kini politisi pemula yang memanfaatkan nama orangtuanya itu yang membuat gaduh negeri ini melenggang melalui MK. Sejarah jangan dibolak balik. Jangan pula orang yang bukan reformis, malah berpura-pura reformis!,” lugas Sanda.

Pernyataan senada juga disampaikan Diajeng Liva. Pengajar Bahasa Inggris di salah satu PKBM yang juga Relawan Ganjar-Mahfud ini menyatakan, pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati sepenuhnya benar.

“Bangsa ini sudah dipertontonkan suatu pendidikan politik yang menerangkan, jangan pernah berterimakasih, jangan pernah balas budi, demi syahwat politik berkuasa. Seseorang yang tak miliki rekam jejak politik, yang masih ingusan dalam tata Kelola pemerintahan, mendadak setelah menjadi kepala daerah harus menunjukan pengkhiatan,” tutur Liva dengan nada tinggi.

Ia pun menyentil sebutan drakor (drama korea) yang belakangan istilah ini populer.

“Jika ada yang menyebut drakor, itu adalah benar, inilah drama korea. Dalangnya siapa? Ya si anu. Aktornya siapa? Aktornya jelas yang memiliki kemiripan dengan drama Korea Utara. Dan, menyebut drama Korea Utara, tentunya mengingatkan kita pada Kim Jong Un. Sepertinya ini ada kemiripan, walau diduga mungkin mirip dari berat badannya, yang gembul dan doyan joget,” ucapnya tanpa menyebut nama siapa yang dimaksud.

Memasuki musim kampanye, sambungnya, suasana yang mulai menghangat diprediksi bakal makin lebih menghangat.

“Dan, yang pasti kami sebagari relawan Ganjar-Mahfud pemilik nomor urut tiga, lebih mengedepankan persatuan bangsa. Pantang lakukan akrobat politik dan lebih jujur. Terpenting, momen pemilu ini adalah waktunya pertaruhan, kelompok reformis yang menang atau orba. Bagi kaum reformis yang anti orba, mari berbaris bersama pilih capres cawapres yang tak berlatarbelakang orba. Mari kita nyatakan, lawan orba, lawan orba isme, lawan gaya politik orba!,” tuntasnya.

(3. Eko Okta Ariyanto)    

 

SHARE

KOMENTAR