Kala Bung Karno Mondok di Sukanegara Cianjur

96
Soekarno bersama dua gurunya pendiri Perguruan Darul Funun el Abbasiyah, dua bersaudara yakni Syekh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah. (foto: historis)

Aartreya.com- Perjalanan hidup Bung Karno tak pernah bisa dipisahkan dengan pesantren. Semasa di Bengkulu pada 1930, ia pernah berguru kepada pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor KH Zainuddin Fananie. Kala itu KH Zainuddin Fananie merupakan kader Muhammadiyah yang melebarkan sayap dakwah di daerah tersebut. KH Zainuddin Fananie pula yang menjadi saksi saat Bung Karno meminang Fatmawati.

Hari-hari berikutnya, saat Belanda mengetahui tentang Jepang telah mendarat di sepanjang pantai Sumatera dan utara Jawa, serdadu penjajah terpaksa hengkang ke Australia. Jepang lalu membawa Bung Karno menuju Padang. Saat berada di kota ini, Bung Karno memposisikan diri sebagai seorang santri.

Mengutip dari laman ibadah.co.id, Bung Karno pernah belajar di Perguruan Darul Funun el Abbasiyah di Puncak Bakuang, Padang Japang Kabupaten Lima Puluh Kota hari ini. Lembaga pendidikan itu diasuh oleh Syekh Abbas dan Syekh Mustafa Abdullah. Kedua ulama besar itu merupakan murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Keduanya juga bersahabat dengan Syekh Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka.

Kedatangan Bung Karno ke Darul Funun untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Kala itu, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara yang hendak didirikan harus berdasar ketuhanan. Dalam catatan sejarah, konsep ini diadopsi oleh Soekarno dalam Pancasila. Bung Karno mengusulkan “ketuhanan” masuk dalam Pancasila, yang kemudian hari disepakati menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” pada sila pertama.

Selain dua ulama besar itu, Bung Karno juga pernah belajar kepada Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung, KH Abdul Mu’thi dari Madiun, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Jombang dan KH Ahmad Basyari di Sukanegara, Cianjur.

Dalam sebuah buletin Oposisi edisi 7 yang terbit perdana pada Maret 2005, KH Ahmad Basyari adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Basyariyah, Sukanagara pada 1911. Usai menimba ilmu dari KH Hasyim Asy’ari, dia mendirikan pesantren di Kampung Cikuruh, Desa Sukanagara, Cianjur. Pesantren itu kini dikenal dengan Pesantren Al-Basyariyah.

Salah satu santri dari pesantren itu adalah Haji AA Wiranatakusuma, yang pernah menjadi Bupati Cianjur (1912-1920) dan Bupati Bandung (1920-1931 dan 1935-1942). Pada era kemerdekaan, Bung Karno mengangkatnya sebagai Menteri Dalam Negeri RI Pertama. Dari sosok inilah, Bung Karno mengenal Kiai Ahmad pada akhir 1930-an.

Bung Karno selalu datang ke Pesantren Cikuruh pada malam hari, sekitar pukul sepuluh. Ini dilakukan untuk menghindari intaian Belanda. Meski pada akhirnya kedatangan Bung Karno tercium oleh mata-mata kolonial.

Pada saat agresi militer Belanda kedua, Sukanagara pernah dibumi hanguskan karena banyak pejuang kemerdekaan yang berjuang di bawah komando Kiai Ahmad. Hari-hari menjelang kemerdekaan, Bung Karno memenuhi permintaan Kiai Ahmad untuk bertirakat di pesantren itu selama tiga bulan.

Selama mondok, Bung Karno banyak menimba ilmu agama, kenegaraan, dan rajin melakukan tirakat. Setiap berkunjung, Bung Karno selalu disuguhi hidangan bubur merah dan bubur putih oleh Kiai Ahmad. Bung Karno pernah menanyakan maksud dari hidangan itu, namun Kiai Ahmad tidak memberitahunya secara gamblang. Kiai Ahmad hanya mengatakan, kelak Bung Karno akan mengetahui makna dan maksud di balik warnah bubur itu.

Kemudian, pada suatu kesempatan pada 1939, Kiai Ahmad memesan kain atau bendera dengan paduan warna merah dan putih kepada Haji Harun Hasan, seorang pengusaha kain di Pekalongan. Setelah bendera jadi dibuat, pada tahun 1942 atau tiga tahun sebelum Republik Indonesia merdeka, untuk pertama kalinya bendera itu dikibarkan di lingkungan pesantren di hadapan Soekarno dan para santri.

Sebuah peti kayu berukuran 50x40 sentimeter dengan ukiran sederhana di setiap sisinya diletakkan di atas meja. Pada salah satu sisi terdapat kunci gembok ukuran sedang. Saat peti dibuka, tampaklah bendera merah putih yang terlipat dengan kondisi lusuh karena dimakan usia.

Saat dibentangkan, warna merah sudah pudar dan warna putih tampak menguning. Ada robekan kecil di ujung atas dan bawah kain bendera. Ukuran bendera sepanjang 3,3x2,1 meter. Jika diamati dari dekat, terdapat tulisan tangan pada tali bendera yang berbunyi "Memuaskan Hati H. Haroon Hasan".

Makna tulisan itu, Haji Haroon merasa senang dan bangga bisa membuatkan bendera yang dipesan Kiai Ahmad. Bendera ini yang kemudian disebut sebagai bendera yang pernah dibawa Soekarno ke Istana untuk dibuatkan duplikat oleh Fatmawati. Setelah dibuat duplikat, bendera itu pun dikembalikan ke tempat asalnya, diberikan kepada kiai Ahmad.

Kiai Ahmad Basyari wafat tahun 1953, dan kepemilikan bendera pusaka ini diwariskan secara turun temurun hingga saat ini.

Hubungan Bung Karno dan Kiai Ahmad tak berhenti sampai di situ. Mengutip laman NU Online, saat Belanda kalah dari Jepang, lalu Jepang dikalahkan sekutu, Indonesia segera memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun Jepang yang tergabung dalam Sekutu tak rela hal itu terjadi. Kala itu, tentara Inggris diutus untuk menangkap Bung Karno.

Melihat gelagat itu, pemerintah Indonesia mempersiapkan beberapa kemungkinan. Saat tentara Inggris berdatangan di sekitar Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta segera mengungsi ke pedalaman. Ia mengungsi ke Pesantren Sukanegara di Cianjur. Pesantren itu tak lain adalah miliki Kiai Ahmad Basyari. Saat itu, Bung Karno dan Bung Hatta hanya diantar Hasjim Ning dan seorang ajudan, tanpa pengawalan ketat.

Saat berada di pengungsian itu, seluruh kebutuhan hidup Bung Karno dan Bung Hatta dipenuhi oleh Kiai Ahmad dan masyarakat setempat. Bung Karno tak pernah bosan tinggal di tempat itu, terlebih lagi ia gunakan kesempatan itu untuk belajar agama. (Sumber : Langit7)

SHARE

KOMENTAR