Sejarah Salam Pekik Merdeka Bung Karno

1607

Ketika itu, 1 September 1945, Bung Karno menetapkan salam merdeka. Bukan dengan tinju mengepal, melainkan tangan terbuka

"Pada 1 September 1945," kata Bung Karno, sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, "aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!". 

Bung Karno mengaku terinspirasi dari nabi Muhammad. "Sebagaimana nabi besar Muhammad SAW memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," katanya saat diwawancara Cindy Adams. 

Lalu, apakah Sukarno penyebutan salam merdeka itu berarti mengabaikan ungkapan salam Islami yang sudah umum disampaikan? Jawabannya, tidak! Sukarno berargeumen seperti ini. di bawah ini.

“Saudara-saudara sekalian! Saya adalah orang Islam, dan saya keluarga negara republik Indonesia. Sebagai orang Islam, saya menyampaikan salam Islam kepada saudara-saudara sekalian, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Sebagai warga negara republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu-Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional, Merdeka!”

Soekarno, di dalam pidatonya itu, justru mengajak rakyat, dan kita semua di zaman sekarang, agar melakukan internalisasi terhadap makna salam, yang artinya adalah damai, sejahtera. Apalah guna tampak taat beragama dengan “mengobral” ucapan assalamu’alaikum, misalnya, sementara di dalam dirinya masih dipenuhi oleh kebencian, dendam membara, pikiran kotor untuk menyakiti orang lain.

Soekarno di masa itu—dan tentu sangat relevan dengan zaman sekarang—justru mengkritik kecenderungan orang atau kelompok tertentu yang lantang mengucapkan assalamu’alaikum, tetapi tidak berbanding lurus dengan perbuatannya yang tidak memberi damai kepada orang lain.

“Marilah kita bangsa Indonesia, terutama sekalian yang beragama Islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu-lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan-gerombolan yang menyebutkan assalamu’alaikum, akan tetapi membakar rumah-rumah rakyat”, ucap Soekarno.

Pekik merdeka, menurut Soekarno adalah pekik pengikat, bahkan sebuah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme. Itulah sebabnya, harapan Soekarno, jangan lupa kepada pekik merdeka! Setiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah, merdeka!

Pernah suatu ketika, tatkala Soekarno kembali dari tanah suci, singgah lagi di Singapura,ia mengaku dikeroyok oleh koresponden dan wartawan, yang menanyakan suatu perkara.

Berikut saya kutip langsung lagi. “Tahukan paduka yang mulia presiden, bahwa tatkala paduka yang mulia presiden meninggalkan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan tanah suci, paduka yang mulia dituduh kurang ajar, kurang sopan, ill-behavior, oleh karena paduka yang mulia memekikkan pekik “Merdeka” dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia di sini memekikkan pekik merdeka? Apa jawaban paduka yang mulia atas tuduhan itu?”.

Dijawab oleh Soekarno, “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara republik Indonesia berjumpa dengan warga negara republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia selalu memekikkan pekik “Merdeka”! Jangankan di surga, di dalam neraka pun!”. (Dikutip dari berbagai sumber/nesto)

SHARE

KOMENTAR