G20, Perkokoh Ekonomi Indonesia

46
Anggota DPRD Kota Bogor, Fraksi PDI Perjuangan, Ence Setiawan

Sebagai tuan rumah, Indonesia sudah menorehkan tinta emas di catatan sejarah, sukses menggelar menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2022. Dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Hotel Apurva Kempinski, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada Selasa, 15 November 2022, para pemimpin negara anggota G20 telah mengadakan sejumlah pertemuan bilateral.

Sebagaimana diketahui, G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). G20  merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia.

Anggota negara G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Pada tahun 2022 ini, Indonesia memegang Presidensi atau menjadi Tuan Rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Mandat ini dilaksanakan sejak 1 Desember 2021 dan akan berlangsung sampai dengan 30 November 2022. Dalam Presidensi G20 pertama ini, Indonesia mengambil tema "Recover Together, Recover Stronger".

G20 untuk tahun 2022 membawa makna penting bagi Indonesia. KTT G20 adalah kesempatan yang datang sekali setiap 20 tahun dan juga bentuk pengakuan atas status Indonesia di mata dunia.  Sejak dibentuk pada tahun 1999, G20 dinilai telah menunjukan giginya mampu memperbaiki sejumlah krisis dan permasalahan ekonomi secara global, termasuk masyarakat dunia.

Dari tinjauan ekonomi, tak bisa ditampik ada keuntungan besar bagi Indonesia, terlebih tahun 2022 menjadi tuan rumah bagi KTT G20, Indonesia mengalami kenaikan konsumsi domestik mencapai Rp 1,7 triliun. Dan, kenaikan PDB nasional yang mencapai Rp 7,4 triliun dan juga turut melibatkan sejumlah UMKM untuk mendorong perekonomian di kelas menengah kebawah.

Angka tersebut terbilang sangat memuaskan jika melihat IMF-WBG Annual Meetings 2018 silam yang dilaksanakan di Bali. Pertumbuhan tersebut mencapai 1,5 sampai 2 kali lebih besar tentunya, selain keuntungan secara ekonomi yang diperoleh. Ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20, tentunya negara Indonesia memiliki kebebasan dalam menentukan agenda, termasuk juga isu-isu apa saja yang ingin dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

KTT G20 mampu melahirkan sejumlah kebijakan ekonomi yang bersifat menguntungkan. Dilansir dari laman Kementerian Keuangan, Indonesia menjadi anggota G20 sejak forum internasional tersebut dibentuk pada tahun 1999. Pada saat itu, Indonesia berada dalam tahap pemulihan setelah krisis ekonomi yang terjadi pada 1997-1998.

Tak hanya itu, inisiatif G20 dalam penanganan pandemi ini sudah memnunjukan bukti memiliki manfaat. Misalnya, penangguhan pembayaran utang luar negeri negara berpenghasilan rendah, injeksi penanganan Covid-19 penurunan atau penghapusan bea dan pajak impor, pengurangan bea untuk vaksin beserta medis lainnya. Presidensi G20 di tengah pandemi sudah membuktikan persepsi yang baik, termasuk membuat ekonomi Indonesia tangguh terhadap krisis.

Selama tergabung dalam forum internasional ini, Indonesia merasakan dampak positifnya secara langsung, yaitu pertumbuhan ekonomi yang bergerak semakin stabil seiring berjalannya waktu. Kembali pada manfaat, ternyata G20 memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Hal ini mencakup manfaat secara umum, manfaat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Dikutip dari laman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, secara umum manfaat G20 bagi Indonesia adalah sebagai berikut, yakni meningkatkan ekonomi: Peningkatan konsumsi domestik meningkat hingga Rp1,7 triliun dan menciptakan kontribusi Rp7,4 triliun pada PDB Indonesia.

Selanjutnya, membuka lapangan kerja: Acara G20 akan melibatkan UMKM, menyerap 33.000 tenaga kerja, dan menciptakan sekitar 700 ribu lapangan kerja baru. Kemudian, mempromosikan Indonesia: Penyelenggaraan forum G20 diprediksi akan meningkatkan wisatawan mancanegara 1,8 juta-3,6 juta.

Sementara, manfaatnya dalam jangka pendek yaitu Presidensi G20 di tengah pandemi membuktikan persepsi yang baik atas resiliensi ekonomi Indonesia terhadap krisis. Indonesia dapat mengemas agenda sedemikian rupa pembahasan pada G20 berdampak positif dalam pemulihan aktivitas perekonomian dalam negeri. Kesempatan menunjukkan kepemimpinan dan capaian Indonesia dalam penanganan pandemi dan pemulihan kepercayaan ekonomi pasca pandemi di dalam dan luar negeri.

Tak hanya itu, KTT G20 juga membuat Indonesia menjadi salah satu fokus perhatian dunia, khususnya bagi para pelaku ekonomi dan keuangan. Pertemuan-pertemuan G20 di Indonesia menjadi sarana memperkenalkan pariwisata dan produk unggulan Indonesia kepada dunia Internasional, sehingga diharapkan dapat turut menggerakan ekonominya.

Lalu apa manfaat jangka menengah G20? Manfaatnya mampu menunjukkan kemajuan Indonesia dalam reformasi struktural, dengan undang-undang 2020 tentang penciptaan lapangan kerja dan pembentukan dana kekayaan negara. Selain itu, mempromosikan sektor pariwisata Indonesia dan produk lokal ke dunia, sehingga menghidupkan kembali perekonomian nasional. Serta, mengundang dukungan global dan memperkuat komitmen internasional terhadap inisiatif Indonesia khususnya pembiayaan UKM.

Sementara, manfaat jangka panjang G20 adalah memperkuat pengakuan internasional atas posisi Indonesia sebagai salah satu ekonomi dunia terbesar, dengan kemampuan mewakili negara berkembang lainnya. Selanjutnya, menciptakan peluang untuk mengatur pembahasan agenda G20 dalam mendukung dan mendorong kegiatan pemulihan ekonomi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara global.

 

(* Penulis : Anggota Komisi I DPRD Kota Bogor, Ence Setiawan)

SHARE

KOMENTAR