Tercatat di 10 Mata Uang Terendah Dunia, Kini Rupiah Sampaikan Maaf Lahir Batin karena Terpuruk

16
Ilustrasi, foto idntimes

Aartreya – Gawat! Nilai tukar rupiah terus melemah dan berpotensi melampaui titik terendah pada 1998 saat krisis moneter (krismon) terjadi. Melansir metrotvnews.com, mata uang Indonesia diperkirakan bakal melemah hingga Rp16.900 pada akhir pekan ini.

Sebab utama rupiah terdepresiasi kali ini ialah wacana penerapan tarif dagang yang tinggi dari Amerika Serikat (AS). Rencananya, kebijakan itu menyasar ke negara-negara yang memiliki surplus dagang terhadap AS. Tak terkecuali Indonesia.

Kebijakan tarif tinggi itu bakal diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) waktu setempat. Hal itu berpotensi membuat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi lebih dalam lantaran hingga Jumat (4/4) Bank Indonesia tak melakukan intervensi akibat masih dalam periode libur Lebaran.

Sebagai informasi, pada saat krisis moneter terjadi, nilai tukar rupiah terjun bebas hingga Rp16.800 per dolar AS. Prediksi rupiah yang bakal melemah hingga di kisaran Rp16.900 per dolar AS juga lebih buruk dari kurs terendah saat pandemi covid-19 yang tercatat Rp16.741 per dolar AS.

Mata Uang Terendah di Dunia

Melansir inilah.com, nilai atau valuasi suatu mata uang sebetulnya bisa menjadi tolok ukur untuk menilai perkembangan negara tersebut. Pasalnya, nilai mata uang ini sangat berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kondisi politik, hingga kebijakan moneter yang diterapkan oleh pemerintah terkait.

Karena itulah, beberapa negara dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil kerap memiliki mata uang yang bernilai rendah. Hal ini tentu bisa memengaruhi kemampuan negara tersebut untuk bersaing di pasar global.

Mengutip dari laman Forbes India, berikut adalah 10 mata uang terendah di dunia per Februari 2025:

1. Rial Iran (IRR)

Rial Iran (IRR) menjadi mata uang bernilai paling rendah di dunia, dengan kurs 1 dolar AS (USD) sama dengan 42.087 IRR pada Selasa (10/02/2025). Hal ini terjadi karena IRR mengalami devaluasi berkepanjangan sejak tahun 1979.

Tak hanya devaluasi, rendahnya rial Iran juga dipengaruhi oleh perang yang terjadi di Iran, sehingga membuat pebisnis di negara tersebut mengalihkan bisnisnya ke negara lain yang lebih aman.

2. Dong Vietnam (VND)

Selanjutnya, ada dong Vietnam (VND) yang bernilai 25.494 VND per 1 USD. Lemahnya nilai tukar VND terhadap mata uang dunia USD ini turut dipengaruhi beberapa faktor, seperti regulasi investasi asing yang sangat ketat hingga memburuknya kondisi pasar properti.

Padahal, pemerintah Vietnam sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi negaranya. Namun sayangnya, hal tersebut masih belum memberikan hasil yang signifikan.

3. Leone Sierra Leone (SLL)

Leone Sierra Leone (SLL) merupakan mata uang resmi Sierra Leone, salah satu negara di benua Afrika yang masih berjuang menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi. Negara ini memiliki skandal korupsi yang cukup besar dan terlibat dalam konflik peperangan di wilayah Afrika Barat, sehingga berdampak terhadap kondisi perekonomiannya.

Sejalan dengan menurunnya kondisi perekonomian Sierra Leone, mata uang SLL pun terus mengalami devaluasi hingga mencapai 22.820 SLL untuk 1 USD.

4. Kip Laos (LAK)

Sejak resmi dirilis pada tahun 1952, nilai kip Laos (LAK) sebetulnya pernah meningkat secara konsisten. Namun, ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1997-1998, mata uang negara Laos ini menurun secara drastis.

Selain itu, negara Laos diketahui juga sempat memiliki utang luar negeri yang mencapai lebih dari 100 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negaranya.

Akibatnya, pemerintah Laos kesulitan untuk memperbaiki kondisi ekonomi negara hingga membuat nilai LAK jatuh tersungkur. Per 11 Februari 2025 ini, kurs LAK terhadap USD berada di angka 21.770 LAK per 1 USD.

5. Rupiah Indonesia (IDR)

Rupiah Indonesia (IDR) juga masuk ke dalam daftar ini, dengan nilai tukar 16.355 IDR untuk 1 USD per 11 Februari 2025. Memang, dalam tujuh tahun terakhir, nilai IDR tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Hal ini diduga berkaitan dengan beberapa faktor, seperti penurunan cadangan devisa hingga ketergantungan terhadap ekspor sejumlah komoditas.

6. Som Uzbekistan (UZS)

Uzbekistan merupakan negara yang sempat menjadi bagian dari Uni Soviet (kini Rusia). Setelah terpisah dari Uni Soviet, negara ini merilis mata uang negaranya sendiri, yaitu Som Uzbekistan (UZS).

Namun sayangnya, nilai mata uang tersebut cenderung tidak stabil. Saat ini, kurs UZS berada di angka 12.985 UZD per 1 USD.

Adapun, faktor penyebabnya berkaitan dengan masalah ekonomi global, seperti krisis ekonomi pada tahun 2007-2008, pandemi covid-19, perang Ukraina-Rusia, hingga agresi Israel di Jalur Gaza, Palestina.

7. Franc Guinea (GNF)

Guinea dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari emas, mineral, dan lain sebagainya. Meski begitu, kekayaan alamnya ternyata tidak membuat Guinea bisa menjadi negara yang sejahtera. Negara ini pun masih bergelut dengan tingkat kemiskinan yang begitu tinggi, kondisi perekonomiannya juga sulit untuk dikendalikan.

Kondisi tersebut berdampak terhadap mata uang resmi Guinea, yaitu franc, yang memiliki nilai tukar 8.658 GNF untuk 1 USD.

8. Guarani Paraguay (PYG)

Masalah rumit yang dialami oleh Paraguay, seperti tingkat inflasi yang tinggi, meningkatnya jumlah pengangguran, hingga kasus korupsi yang merajalela membuat kondisi ekonomi negara ini sangat tidak stabil.

Hal ini tentu berdampak terhadap nilai tukar guarani (PYG), mata uang resmi Paraguay yang mencapai angka tinggi, yaitu 7.896 PYG untuk 1 USD.

9. Riel Kamboja (KHR)

Selain Vietnam, Laos, dan Indonesia, negara di Asia Tenggara lainnya, yaitu Kamboja, juga memiliki mata uang resmi bernama riel (KHR) yang bernilai rendah apabila dibandingkan dengan mata uang dunia dolar Amerika Serikat.

Diketahui, nilai tukar mata uang ini berada di angka 4.024 KHR per 1 USD pada 11 Februari 2025. Dugaannya, hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi negara Kamboja yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Selain itu, Kamboja juga cenderung bergantung pada USD, sehingga transaksi besar di negara ini masih menggunakan mata uang dunia tersebut. Dengan demikian, penggunaan KHR sendiri masih sangat terbatas.

10. Shilling Uganda (UGX)

Terakhir, ada shilling Uganda (UGX) yang memiliki nilai tukar sebesar 3.678 UGX untuk 1 USD. Penyebab rendahnya mata uang ini sangat beragam, salah satunya yaitu kebijakan imigrasi dari pemerintah Uganda ternyata memberikan dampak negatif terhadap perekonomian negara.

Selain itu, kebijakan tersebut juga turut menghambat pembangunan negara yang berperan penting dalam mendukung berbagai aktivitas perekonomian.

(Sumber : metrotvnews.com/inilah.com)

SHARE

KOMENTAR