Sejarah Berdarah, Bung Karno Lolos dari Penembakan Saat Salat Idul Adha pada 1962

55
Bung Karno saat salat Idul Adha

Aartreya - Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah menjadi sasaran percobaan pembunuhan oleh sniper tak dikenal. Peristiwa itu terjadi saat Sholat Idul Adha di tahun 1962 di lapangan rumput antara Istana Merdeka dan Istana Negara, Jakarta. Dinukil dari intisarigrid.id, Presiden Soekarno, seperti biasa, hadir dalam sholat tersebut bersama para pejabat tinggi negara dan masyarakat umum.

Suasana khusyuk menyelimuti jalannya sholat. Namun, ketenangan itu tiba-tiba pecah ketika terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Para jemaah panik dan berhamburan mencari perlindungan.

Ternyata, tembakan tersebut berasal dari arah belakang shaf sholat Soekarno. Pelakunya adalah seorang anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) bernama Sanusi Firkat. Dia melepaskan tembakan dari jarak dekat, sekitar 5-6 meter, dengan tujuan untuk membunuh Soekarno.

Beruntungnya, saat itu Soekarno sedang dalam posisi sujud dan tembakan-tembakan Sanusi Firkat meleset. Justru, tembakan tersebut mengenai beberapa orang di sekitar Soekarno, termasuk Ketua DPR Zainul Arifin yang terluka di bagian bahu.

Melihat kekacauan, Soekarno yang baru saja selesai sujud langsung berdiri dan berlari ke arah mihrab. Tindakan sigap Soekarno ini membuat Sanusi Firkat kehilangan target dan tembakan selanjutnya kembali meleset.

Pengawal Presiden yang sigap segera bertindak. Mereka berhasil menangkap Sanusi Firkat dan tiga orang lainnya yang terlibat dalam percobaan pembunuhan ini. Sanusi Firkat dan kawan-kawannya kemudian diadili dan dihukum mati.

Percobaan pembunuhan terhadap Soekarno saat Sholat Idul Adha ini dilatarbelakangi oleh motif politik. DI/TII menentang kepemimpinan Soekarno dan ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.

Peristiwa ini tentu saja menimbulkan kegemparan di masyarakat. Kepercayaan publik terhadap Soekarno semakin meningkat, dan mereka semakin mendukung kepemimpinannya. Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat akan bahaya radikalisme dan pentingnya menjaga stabilitas keamanan nasional.

Rosihan Anwar, aktivis dan jurnalis senior, dalam bukunya Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik, 1961-1965 mengisahkan peristiwa itu.

“Percobaan pembunuhan dilakukan para rakaat kedua dengan tembakan pistol beberapa kali dari jarak kurang lebih 5-6 meter,” tulisnya di halaman 14.

Dikisahkan oleh Rosihan Anwar, Bung Karno tidak mengalami cedera apa-apa. Percobaan itu dilakukan orang-orang DI/TII yang mendapat tugas dari Kartosuwiryo. Bung Karno memang tak kurang suatu apa. Namun, orang yang melindungi dirinya, yakni KH Zainul Arifin, harus meregang nyawa. Pada pada 2 Maret 1962, KH Zainul Arifin Pohan pun berpulang.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 35/tahun 1963 tanggal 4 Maret 1963.

Percobaan pembunuhan terhadap Soekarno saat Sholat Idul Adha merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang menegangkan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kisah heroik Soekarno yang berhasil lolos dari maut dan tetap tenang dalam situasi genting menjadi inspirasi bagi banyak orang. Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting tentang bahaya radikalisme dan pentingnya menjaga toleransi dan persatuan bangsa. (*)

(Sumber : Intisari/Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik-Rosihan Anwar/ Eko Okta)

 

SHARE

KOMENTAR